Minggu, 23 Februari 2014

Jalan Jalan hemat ke Bromo

Well mumpung ada waktu luang nih aku sempet sempetin buat nulis cerita pengalamanku pergi jalan jalan berbiaya murah alias backpack.
Sebenarnya trip kali ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari dan teman-teman yang mau ikut ada 6 orang. Tapi ada sedikit ketidak konsistenan dari salah satu teman kami so diputuskan yang berangkat adalah 4 orang (yang penting berangkat dehh!).  Oke perjalananku ke Bromo ini dilakukan pada tanggal 10-12 Februari 2014 kemarin dengan transportasi darat murah meriah Rp. 80k (sedikit mahal sih) pake kereta ekonomi. Tiket KA sudah berada di tangan kita seminggu sebelum keberangkatan biar nggak panik kalo kehabisan tiket guys.Sedikit tips kalo beli tiket mending antri di stasiun aja selain hemat biaya sekaligus nggak ribet antri juga kalo mau nuker struk jadi boarding pass.

Ini penampakan tiket KA Sri Tanjung
Bentuk tiket KA Sritanjung yang dulu berhenti di stasiun Solo Jebres, tapi di dalam Gapeka 2015 berhenti di Stasiun Klaten dan Purwosari


Tiket Baliknya menuju ke Klaten
Dua hari menjelang keberangkatan kita berempat ngadain kumpul-kumpul buat bikin checklist barang apa saja yang mau dibawa.
And then di pagi hari H pukul 06.00 kita kumpul di rumah temen ane deket kampus Unwidha Klaten (sorry promo dikit) untuk sama-sama berangkat menuju ke stasiun Solo Jebres.
Note: KA Sri Tanjung mulai bulan Oktober 2013 sudah tidak berhenti lagi di stasiun Klaten untuk tujuan ke Timur.
Pukul 06.30 mobil yang kita tumpangi melesat menuju kota Solo dan 500 meter kemudian salah satu temen ane mendadak gempar karena Tongsis yang kita siapin ketinggalan dirumah. Dengan gesitnya sopir kami balik lagi ke rumah dan syukurlah akhirnya Tongsisnya terbawa juga. Untung ingetnya nggak jauh-jauh amat. Selama di jalan menuju Solo kita banyak ngobrol dan cemal cemil dan pada akhirnya pukul 07.45 sampailah di stasiun Solo Jebres. Kepagian makkk!!
Di stasiun kami sibuk buat repack barang-barang kami, ngobrol, photo-photo, dan tak lupa memenuhi panggilan wajib pagi hari. Hahaha
Dan inilah perwujudan kami berempat ketika di stasiun Solo Jebres
Di dalam Lounge Stasiun Solo Jebres sebelum berubah fungsi menjadi stasiun kargo dan penumpang KA jarak jauh via jalur utara
Tepat pukul 08.45 kereta yang kami tumpangi tiba di stasiun Solo Jebres. Kami berempat berada di gerbong 5 dan nomor kursi 21A&B, 22A&B. Saat mau duduk kami semua terperanjat ketika melihat konfigurasi tempat duduk tidak sesuai saat dummy booking lewat paditrain. Ternyata kita semua duduk di kursi yang buat 3 orang. Padahal saat lihat di paditrain kode tempat duduk AB itu cuma buat 2 orang. Yowis lah! semoga kereta nggak penuh biar gerak lebih leluasa.

Signname KA Sri Tanjung relasi Yogyakarta Lempuyangan menuju Banyuwangi Baru PP.

Sekarang sudah nyaman loh pakai KA Ekonomi karena udah ada AC-nya

Tips lagi ya kalo pesen tiket KA ekonomi yang gerbongnya merah pilihlah tempat duduk dengan kode D dan E karena cuma buat 2 orang aja dan kalo pengen yang tempat duduknya dapat angin segar dari AC pilihlah tempat duduk no 20 karena hembusan blower AC sangat terasa. haha
Stasiun demi stasiun pun kami lewati dan satu hal yang bikin kami senang adalah sekarang KA ekonomi udah ada colokannya. Yeaay! bisa ngegame dan check-in nih tanpa takut baterai kami habis. Lol
Sesampai di stasiun Madiun tak lupa kita beli Pecel asli dari daerah asalnya dengan harga 5 ribu saja. Niatnya sih cuma pengen sayurnya aja eh tapi yang dijual ternyata sudah ada nasinya dan dibungkus rapi dan sayurnya dikit banget. Bagaikan kita beli kucing dalam karung. Nggak worth it lah pokoknya udah nasinya nggak pera sayurnya dikit lagi. Hrrr
Kurang lebih pukul 13.45 kita tiba di Stasiun Besar Surabaya Gubeng. Nggak lupa dong buat check-in dulu di path biar penggemar pada tau. Heuheu. Di stasiun Gubeng ini kereta kira-kira berhenti sekitar 15 menitan karena posisi lokomotif bakal dipindah ke belakang. Setelah itu kereta melanjutkan perjalanan menuju ke Banyuwangi. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Probolinggo kita habiskan dengan ngobrol n tidur. Selepas stasiun Sidoarjo kereta melambatkan kecepatannya dan kereta kita akan melewati pinngir tanggul lumpur lapindo.
KA Sri Tanjung melewati persis di samping tanggul Lumpur Lapindo
Beberapa jam kemudian pukul 16.00 kami tiba di Stasiun Probolinggo. Ternyata cukup banyak juga penumpang baik WNI maupun WNA yang turun di stasiun ini. Keluar dari stasiun ternyata sudah ada angkot kuning yang menanti kami para pembawa tas besar seakan mereka sudah tau arah dan tujuan kami. Dengan biaya 5 ribu rupiah kita ber 4 dan 4 cewek bule dari Perancis, Swiss, Belanda, dan UK diantar menuju ke salah satu agen pariwisata yang bernama Java Tour & Travel. Tiba di kantor agen tour tersebut 4 cewek bule tersebut menolak turun dan debat dengan sopir angkot supaya diantar menuju ke terminal bus.
Di kantor agen ada juga rombongan dari jogja yang menginginkan tur Bromo-Malang. Karena mereka ingin praktis, mereka pada mau terima harga yang hmmm lumayan bagi kami. Sebenarnya kami agak ragu buat make jasa tour agent ini mengingat ke kantor agen ini udah menyalahi schedule yang kami buat. Well gapapa lah sekalian cari info dari pemilik agennya. Ngobrol cas cis cus dari penginapan yang berpajak, warung makan berpajak (bullshit banget), nggak ada indomaret, dll lalu beberapa saat dan sampai pada akhirnya si tukang agen itu memberi penawaran buat tour ke Bromo sebesar 250 ribu rupiah per orang, what? tentunya saya nggak mau dong terima mentah-mentah tawaran itu. Nego demi nego yang alot akhirnya disepakati harga Rp 220k untuk trasportasi dari Probolinggo menuju ke Cemoro Lawang pp dan sebuah jeep untuk tour ke 5 lokasi. Masih sedikit lebih mahal :'(

Kwitansi pembayaran tur
Contact Person Mas Toli yang punya Tour Agent

Murah Bukan...

Well, pukul 17.15 2 rombongan sekitar 8 orang langsung tancap gas menuju ke Cemoro Lawang. Oh ya mobil dari Java tour yang kami pakai itu sejenis Isuzu ELF yg sedikit lebih bagus daripada yang ngetem di sekitar Terminal Bayuangga tapi nggak bisa dinyalain loo jadi di dorong dulu. haha. Perjalanan menuju ke Cemoro Lawang menghabiskan waktu hampir 2 jam termasuk mampir ke indomaret buat nambah stok cemilan dan sopirnya ngebut sepanjang perjalanan sampai-sampai ngeliat keluar aja nggak berani (tipikal sopir travel).

Kurang lebih pukul 19.00 kami pun tiba di sebuah homestay yang berada di cemoro lawang. Ketika turun dari mobil udara dingin dan hembusan angin yang cukup kencang langsung menyergap kami. Karena rombongan satunya sudah pesan penginapan dan di drop disitu maka sang pemilik pun juga menawarkan penginapannya kepada kami. Kami pun lantas bertanya-tanya dan lihat-lihat homestay-nya, 1 rumah terdiri dari 2 kamar plus 1 kamar mandi dan ruang tamu. Ketika saya tanyakan harganya pada pemiliknya tersebut si bapak bilang kalo harganya 300k dan itupun tanpa ada air hangatnya. Sontak saya dan teman-teman nggak mau pakai lah orang dinginnya disana aja udah kayak es mau mandi pakai air dingin pulak. Akhirnya si bapak tadi menawarkan rumah yang letaknya bersebelahan dengan yang ditawarkan sebelumnya yang dari segi eksterior lebih bagus dari sebelahnya dan pastinya ada air hangatnya. Masalah harga tetap sama yaitu 300k :(. Setelah interior kami lihat dan mencoba shower air hangatnya dan teman-teman setuju akhirnya kami semua menginap disitu. Ketika masuk ke kamar ada anak-anak yang menjual topi, syal, dan sarung tangan yang harganya cukup murah. ketiganya dibandrol 40k saja. Lumayan daripada menggigil kedinginan ketika di penanjakan.

Nama Homestay yang kami tempati, Homestay Mawar
Homestay Mawar yang terletak di Cemorolawang

Sebenarnya lagi mati lampu tapi untung ada genset walaupun cuma sampai jam 11 malam saja


Setelah istirahat sebentar dan sangat kelaparan, maka yang dicari adalah warung makan. Suatu keanehan yang terjadi ketika berada di Cemoro Lawang adalah gelap gulita. Kata si bapak tadi ternyata di situ sedang ada pemadaman listrik. Di kegelapan tersebut akhirnya kita menyusurinya dan berharap ada warung yang buka. Jalan sekitar 300m ehh udah dihadang segerombolan anjing. Oke deh akhirnya balik ke homestay dan nahan lapar yang amat sangat. Lol. Di homestay saya berinisiatif buat minta air panas ke bapak pemilik homestay tadi. Nggak pake lama sebuah termos besar berisi air panas pun tiba. Air panas ini tentunya buat nyeduh pop mie yang telah kami bawa dari rumah dan menolong kami dari kelaparan. Hahaha
Seteleh urusan perut beres maka kami pun mandi air hangat dan lanjut bobok karena harus bangun jam 2 pagi. Ketika akan tidur pun ada 1 masalah lagi yaitu bed cover dan bantal yang baunya amit-amit apek banget. Kelihatan banget kalo homestay ini minim perawatan. Akhirnya kami pun tidur di 1 kamar dan narik 1 kasur ke kamar satunya tanpa bantal dan bed cover. Rugi bro bayar lumayan mahal tapi nggak dapat fasilitas yang semestinya. Oke lah terpaksa tidur dengan tidak nyenyak sampai jam 2.30 pagi. zzzz

Pagi-pagi jam 2.30 kita semua dibangunkan oleh alarm hp masing-masing dan setelah itu gosok gigi dan cuci muka. Pukul 3 pagi kita sudah siap untuk menuju ke penanjakan dan nunggu jeepnya sungguh lama sekali. Ketika jeep sudah siap terpaksa kita masih juga menunggu rombongan yang satunya dan sepasang turis asing. 

Ketika bosan nunggu rombongan lainnya yang super lama, cara ampuh buat mengusir kejenuhan ya dengan foto-foto. Hahaha
Sambil nunggu turis asal Inggris foto dulu lah


Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya kita berangkat menuju ke penanjakan untguk melihat sunrise. Perjalanan menuju ke Penanjakan ditempuh sekitar 20 menitan melewati lautan pasir. Tiba di Penanjakan rupanya disana sudah ramai sekali oleh turis. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kami gagal melihat matahari terbit karena kabut tebal langsung menghadang kami. Pukul setengah 6 kita kembali ke parkiran jeep dan meneruskan perjalanan ke kawah gunung bromo. Ditengah-tengah perjalanan kita singgah buat foto dengan background gunung batok. 

Note: Ketika sampai di parkiran jeep jangan lupa catat nopol kendaraan biar kalau turun tidak lupa jeepnya yang mana

Ini membantu ketika kita lupa mobil yang kita naiki yang mana.

Suasana di Penanjakan
Selfie di Penanjakan. Mas yang megang kamera DSLR itu anak UPN Jogja dan sama-sama beli paket di Java Tour tapi karena negosisasinya lemah dapat kamar tanpa water heater. Kasian nggak kebayang mandi air es
Selfie 2. Turis Jepang di belakang kita mungkin keheranan karena kehebohan kita
Terakhir
Di tengah perjalanan menuju ke Lautan Pasir
Obat kecewa gagal dapat sunrise
Lol

 Gunung Batok dari kejauhan
Gunung Batok

Selepas foto-foto dengan latar belakang gunung batok tadi perjalanan dilanjutkan menuju ke gunung bromo. Jeep yang kami tumpangi menuju ke lautan pasir dan parkir disana, selebihnya kita jalan kaki atau naik kuda. Untuk yang naik kuda kalo mau nawar mending bayar 50k bolak-balik. Kalau berjalan kaki lumayan jauh juga buat menuju ke tangga. Sampai di tangga kita harus naik tangga sebanyak 249 anak tangga yang bikin energi makin kesedot ditambah angin yang berhembus sangatlah kencang. Tapi dari atas pemandangan gunung bromo, pura, dan lautan pasir sangatlah indah. 

Here we are

Teman dekat dari SMP sampai sekarang

Selfie...!!!

Gunung Batok

Pura Luhur Poten

Sebenarnya kasihan itu turis asing yang terus menerus dideketin sama bapak-bapak penyewa kuda yang agak sedikit memaksa. Point minusnya Bromo ini nih.

Biar nggak kelihatan capek foto dulu dong

Ditengah Jalan Trekking. Lelah broo..

Indah Kan..??

Tenda-tenda warung makan dekat Pura

Sampai Juga di Depan Tangga Menuju ke puncak Gunung Bromo


Panorama Bukit Penanjakan, Lautan Pasir, Gunung Batok, dan Gunung Bromo


Inilah Kawah Gunung Bromo

Setelah puas berfoto dan memandangi indahnya pemandangan Gunung Bromo dan sekitarnya kami turun lewat tangga lagi dan menaiki kuda sampai di suatu tempat dekat dengan pura. Disitu kami berempat makan bakso dulu karena udara dingin bikin perut cepat rewel minta diisi lagi. Setelah makan bakso kita semua rencananya mau mampir ke pura tetapi di tengah jalan hembusan angin yang semakin kencang mengurungkan niat kami untuk kesana dan langsung menuju ke parkiran jeep untuk menuju ke Padang Savannah dan Bukit Teletubbies.

Foto diatas Gunung Bromo

Pertama Kali Naik Kuda

Video Pasir Berbisik

Di Padang savannah kita hanya foto-foto saja. Dibelakang padang savannah itu ada hamparan bukit-bukit hijau yang terlihat cantik yang dinamakan bukit teletubbies. Disini hembusan angin tidak terlalu kencang dan suasananya benar-benar sunyi dan rombongkan kami adalah yang pertama sampai disini sehingga kita bisa berfoto sepuasnya sebelum rombongan lain datang. 

Padang Savannah dan Bukit Teletubbies
Pasang dulu tongsisnya kakak.. @Padang Savannah
Itu tuh bukit Teletubbies

Aku nggak dirangkul. hikss..!!

Kenang Kenangan

Ini juga Teman dari SMP sampai sekarang

Setelah puas kita menuju ke Lautan Pasir lagi untuk berfoto lagi dan setelah itu kembali ke penginapan. Sampai di penginapan kurang lebih pukul 11.00. Di penginapan kita langsung packing barang-barang, mandi, lalu nunggu jemputan ke Kota Probolinggo. Pukul 13.30 kami semua dijemput pihak Java tour dan menuju ke Kota Probolinggo. Sesampai di kota Probolinggo kita menuju ke Houstel Dharma di Jalan Buton, tapi kamar disana sudah penuh dan kita diarahkan ke Hostel mereka yang lain tak jauh dari Houster Darma yang namanya kalo tidak salah Hotel Wijayakusuma di dekat Stasiun dan Alun-alun Probolinggo. Sewaktu di Houstel Darma kita langsung book 2 kamar + 1 ekstra bed karena mereka melarang cewek dan cowok tidur satu kamar (aturan kuno). Harga yang ditawarkan adalah 66k untuk kamar tanpa ac dan 99k untuk kamar berAC dan sudah termasuk pajak 10%.

Bukti murahnya harga kamar houstel darma
Kuitansi untuk 2 kamar tanpa AC termasuk PPN. Murah ya..

Nomor telepon pemilik
Nih CP pemilik Hostel Dharma. Hostel ya bukan Houstel atau Haustel. hahaha

Setelah booking kamar kita lanjutkan makan siang di Resto Ayam & Bebek goreng Bu Lely yang porsinya cukup mengenyangkan. Setelah makan siang kelar kita menuju ke penginapan yang dimaksud yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari Stasiun Probolinggo.

Letak penginapan kami berada di obyek yang dilingkari
Di dekat hostel ini banyak warung dan toko-toko bahkan dekat tempat gym. Strategis kan.

Sampai di penginapan kami langsung tidur dan bangun-bangun langit sudah gelap lalu keluar cari makan malam lagi dan tidur lagi sampai keesokan paginya. Pagi sekitar pukul 10.00 (waktu check-out) kami meninggalkan penginapan dan menuju ke stasiun dengan berjalan kaki. Pukul 11.00 KA Sritanjung berangkat menuju ke Yogyakarta via Surabaya dan tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 19.40.